SEKILAS INFO
: - Sabtu, 18-09-2021
  • 9 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru TP 2021/2022 telah dibuka, untuk mendaftar klik Menu PPDB2021 atau kunjungi ppdb.smkmuhsuruh.sch.id
  • 1 tahun yang lalu / Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS SMK Muhammadiyah Suruh akan dilakukan secara Daring.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat Datang Siswa Baru SMK Muhammadiyah Suruh Tahun Ajaran 2020 / 2021
AJINING DHIRI ANA ING DHIRI, AJINING RAGA SAKA BUSANA. MASIH RELEVAN KAH?

Budaya Jawa merupakan salah satu budaya Indonesia yang saat ini masih terus berkembang, bahkan menjadi salah satu kearifan budaya Indonesia. Orang Jawa terkenal dengan sikapnya yang lembut, penuh keramahtamahan dan anti kekerasan. Hal itu membuat banyak orang dari suku budaya lain kagum dengan sikap dan perilaku orang Jawa. Banyak dari mereka yang ingin mendalami budaya Jawa, bahkan orang luar negri juga banyak yang belajar kebudayaan Jawa. Salah satu budaya Jawa yang masih dijunjung tinggi nilai budayanya adalah paribasan atau peribahasa Jawa. Rangkaian kalimat yang ada dalam paribasan mampu mengubah perilaku seseorang yang membacanya. Masyarakat banyak menggunakan paribasan untuk mereka posting di media sosial.   Inilah makna filosofi, makna yang mampu mengubah seseorang dari hal yang buruk ke hal yang lebih baik.

Salah satu peribahasa yang termasyhur di kalangan masyarakat adalah “Ajining Dhiri ana ing Lathi, Ajining Raga saka Busana”. Peribahasa tersebut pastilah mempunyai makna filosofi yang mendalam. Ajining Dhiri ana ing Lathi memiliki arti seseorang akan dihargai dari ucapan atau perkataannya. Lathi berarti bibir, orang akan dinilai baik jika ucapannya bisa dijaga dan tidak menyakiti orang lain.  Apalagi budaya Jawa juga memiliki tingkat tutur bahasa yang bisa diterapkan sebagai salah satu cara menghormati orang lain. Sedangkan Ajining Raga saka Busana berarti seseorang akan di hargai jika berpenampilan atau berbusana yang baik. Busana yang sopan mencerminkan kebaikan akhlaknya. Tapi, bagaimana tingkat relevansi paribasan tersebut di masa sekarang? Masihkah natural seperti makna aslinya?

Masyarakat saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Teknologi bisa membuat manusia itu berkembang atau bahkan bisa menjerumuskan ke jurang kesesatan. Semua itu tergantung kebijakan kita sebagai pengguna dan penikmat teknologi. Sebagai salah satu contoh yang paling dekat dengan kita yaitu Hand Phone. HP menjadi salah satu barang mungil yang setia menemani kemana dan dimanapun kita berada. Bahkan hampir setiap waktu kita tak lupa memposting status –status di media sosial kita. Siapa sih yang tidak suka jika statusnya dikomentari teman? Apalagi dikomentari cukup di like saja sudah senang, itu artinya status kita mendapat perhatian banyak orang. Tapi, jangan bangga dulu dengan apresiasi teman kita di status.  Waspada sebelum memainkan jari di  atas keypad itu sangat perlu. Satu status kebencian/umpatan/ekspresi tidak senang terhadap orang lain bisa jadi tali pemanjang rentetan catatan buruk amal kita. Mari kita bermain logika, jika status kita dikomentari oleh satu orang dan  ndilalah sang komentator ikut-ikutan bernada benci atau ngompor-ngompori, bahasanya orang Jawa, berarti kita sudah mengajak orang lain kepada keburukan. Walaupun mungkin sang komentator hanya berceloteh iseng sebagai bentuk solidaritas pertemanan. Iya kalau yang berkomentar hanya satu, kalau lebih dari satu? Bisa kita prediksikan betapa panjangnya tali penyambung keburukan yang awalnya hanya sebagai sarana luapan emosi. Karena di jaman sekarang AJINING RAGA tak lagi SAKA BUSANA. Baju rapi, dandan mlipit, rambut klimis belum tentu hatinya seindah penampilannya. Baju sederhana, wajah biasa saja belum tentu juga hatinya seburuk penampilannya. Karena di jaman sekarang AJINING DHIRI tak lagi ANA ING LATHI. Tutur kata bisa saja halus dan ramah, penuh senyum mempesona tapi bisa jadi watak SENGKUNI bersemayam di hatinya. Mungkin paribasan yang tepat untuk jaman sekarang adalah  AJINING DHIRI DUMUNUNG ANA ING DRIJI. Tanpa kita sadari kita bisa menebak watak seseorang dari status yang mereka ketikkan. Mula kudu ELING LAN WASPADA sebelum si jempol asyik bergoyang. Marilah bijak bermedia sosial, kita naturalkan kembali peribahasa di atas, kita sinkronkan kembali penampilan dan ucapan kita.

 

Penulis
Inti Ari, S. Pd

 

Guru Bahasa Jawa SMK Muhammadiyah Suruh

TINGGALKAN KOMENTAR

SAMBUTAN (MPLS) MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH